Pola kaderisasi yang harus di rubah
Dari sekian banyak stratag yang
digunakan, saat ini yang paling relevan adalah pola kaderisasi yang lebih
menitik beratkan penguasaan intelektual personal, maksudnya setiap kader harus
menguasai keilmuan pada bidang-bidang yang menjadi tertib keilmuannya, karena
prestise kader PMII dengan pola kaderisasi yang dahulu, jika di hadapkan dengan
kenyataan sistem Baik dalam dunia kerja atau dunia profesinal yang lain, mereka
sering kelabakan karena pola kaderisasi yang di terapkan dahulu lebih mengarah
pada penguasaan ilmu-ilmu aktivis pada tahun pejuangan kemerdekaan yang
mempelajari tentang pemikiran marxs, hegel. Ataupun neithse. Atau ilmu-ilmu
yang berbasis keagamaan dan sering meninggalkan tertib keilmunya di kampus.
Pada
awal tahun perjuangan kemerdekaan NKRI tipe pemimpin yang memimpin adalah
tipe-tipe pemimpin yang bersifat aktifis kemahasiswaan, sifat ini sesuai dengan
zaman perubahan pada zaman itu. Berlanjut pada era berikutnya pada era suharto
pemimpin yang mendominasi adalah pemimpin yang berlatar belakang militer karena kecenderungan kepada blog barat. kemudian
kombinasi antara militer dan pengusaha terjadi pada era setelah suharto. Sedang
kan pada era NKRI kepemimpinan SBY perebutan jenis pemimpin ini yang sedang
terjadi, jika kader-kader PMII tidak memiliki tiga hal yang berkait dengan tiga
tipe pemimipin diatas maka akan sulit untuk memipin negeri ini.
Maka :
·
Jika kegiatan dalam PMII tidak memiliki manfaat
bagi kader secara keilmuan saat menjadi alumni nanti, maka yang perlu
disalahkan adalah sistemnya.
·
Kaderisasi harus di rubah sesuai perkembangan
zaman, karena tidak semua kader PMII memiliki keilmuan yang laku apabila di
“jual” di masyarakat.
Ctt : pola ini di terapkan di
kampus-kampus besar dengan kualitas dosen yang sudah teruji dan dengan fasilitas
yang memadai. Bagaimana dengan unisda ..??
seeeeeeeeeeeeeeeppppppp...!!!!!
BalasHapusuyee.....
BalasHapus